Oleh: Annisa Hidayat | 2 Mei 2010

Perempuan dalam Islam

Memperbincangkan perempuan memang tak akan pernah ada habisnya. Sejak dahulu hingga sekarang wacana tentang perempuan selalu menjadi agenda yang sangat penting. Terlebih ketika muncul gerakan feminisme yang mempersoalkan peran perempuan yang dianggap marjinal dan subordinasi dari kaum laki-laki. Sebagian ada yang berpendapat bahwa Islam mendiskreditkan perempuan, Islam tidak memberikan ruang gerak yang bebas kepada perempuan.[1] Padahal jika kita melihat perempuan dalam bingkai sejarah, Islam memiliki peran yang besar dalam pembebasan perempuan.

Status perempuan dalam Islam dapat dipahami secara baik apabila diketahui status mereka pada zaman jahiliyah (periode kebodohan atau periode pra-Islam). Hal ini disebabkan karena tidak adanya revolusi, politik, atau sosio-keagamaan yang dapat menghapus semua jejak masa lalu. Sebagaimana diketahui, pada masa pra-Islam, perempuan tidak mendapatkan hak apa-apa dan diperlakukan tidak lebih dari barang dagangan. Mereka tidak hanya diperbudak, tetapi juga dapat diwariskan sebagaimana harta benda.[2] Saat itu, wanita dijadikan golongan kasta terendah dalam penggolongan manusia. Kemudian juga jika dilihat dalam potret buram keadaan perempuan saat ini, perempuan menjadi objek eksploitasi masyarakat barat yang memiliki budaya laissez faire. Kisah sedih ini justru merupakan buah ‘pembebasan’ feminisme. ‘Pembebasan’ yang malah menghasilkan angka yang tinggi pada pembunuhan janin, prostitusi, pemerkosaan, perceraian dan  single parent (baca: single mother). Penindasan kuno yang tetap lestari dalam kemasan baru.[3]

Dengan demikian, kedudukan kaum perempuan sebelum era Islam sungguh memprihatinkan. Sebagai contoh, di Jazirah Arab sebelum Islam datang, keadaan kaum perempuan sangatlah buruk. Perempuan hanya dihormati jika orang tuanya menjadi raja atau ketua kabilah atau ia jagoan dan ditakuti masyarakat Arab. Perempuan sama dengan barang. Maka, terjadilah istilah budak; seorang perempuan yang menjadi budak bebas untuk dijual kepada siapa saja yang membutuhkannya. Atau, ia menjadi perempuan penghibur dengan melantunkan lagu-lagu disertai tarian erotis. Dan, tidak jarang perempuan dijadikan selir oleh raja-raja untuk memenuhi nafsu mereka.[4] Dalam hal ini, tidak ada pembatasan tentang jumlah istri yang dapat dimiliki oleh seorang laki-laki.

Dalam Al-Qur’an juga disebutkan bahwa bangsa Arab pra-Islam sangat tidak suka dengan kehadiran perempuan, karena ia dianggap tidak bisa berperang, lemah dalam ingatan, lemah fisik, dan banyak lagi tuduhan lainnya. Setiap kali ada bayi lahir yang berwujud perempuan, secara serta merta bapaknya tega membunuh anaknya sendiri dengan cara menguburkan anaknya hidup-hidup.[5] Hal ini disebabkan oleh dua motif, yaitu takut kalau pertambahan keturunan perempuan akan menimbulkan beban ekonomi, dan juga takut akan hinaan yang sering kali disebabkan oleh para gadis yang ditawan oleh musuh, kemudian dijadikan kebanggaan bagi penculiknya di hadapan para orang tua dan saudara laki-lakinya. Dengan demikian, mereka beranggapan bahwa kalau anak perempuan lahir akan membawa celaka.

Tidak jauh berbeda dengan hal itu, beberapa agama juga memandang perempuan sebagai sesuatu yang hina dan menjadi penyebab kerusakan. Agama-agama tersebut tidak memposisikan perempuan pada proporsi yang seharusnya. Di antara beberapa doktrin agama terhadap perempuan adalah sebagai berikut. Kaum perempuan hanyalah jerat penggoda yang sangat berbahaya di hadapan laki-laki, perempuan selalu memutar-balikkan kebenaran serta selalu berkata dusta, dan lain sebagainya.[6]

Dalam tradisi agama Hindu, terdapat pemahaman bahwa orang tua boleh menjual anak perempuannya, perempuan tidak mendapat warisan, mengorbankan gadis kepada para dewa sebagai persembahan, kalau suaminya mati perempuan dianjurkan ikut membakar diri di dalam kayu yang membara bersama suaminya, dan perempuan tidak boleh mencari kebebasan.[7]

Kemudian dalam agama Yahudi, perempuan dianggap selalu dalam kutukan dewa, selalu berdosa sejak lahir dan harus dihukum, serta perempuan hanyalah dianggap sebagai hiasan rumah. Di samping itu, perempuan hanyalah sebagai budak, jadi orang tuanya berhak menjualnya kepada siapa saja, dan kehadirannya merupakan laknat bagi alam semesta. Sebagian tradisi Kristiani juga mempersepsikan perempuan sebagai penyebab kehancuran umat, sumber segala dosa dan kesalahan, serta tidak berhak untuk mendapat kesempatan dalam segala urusan karena ia mempunyai pikiran yang lemah.[8]

Dari uarian di atas dapat diketahui bahwa pada masa-masa sebelum Islam, kedudukan perempuan sangat terhina. Hak-haknya dirampas dan ia dituduh menjadi akar permasalahan bila terjadi kerusakan dan keributan di masyarakat. Pada saat eksistensi perempuan tergadaikan, Islam datang bagaikan cahaya rembulan di malam hari. Melalui Al-Qur’an dapat diketahui bahwa pada saat kedudukan perempuan dihinakan dan dijadikan barang komoditi, sejumlah permpuan muslimah muncul dalam pentas sejarah. Mereka mengibarkan bendera kesamaan, kesetaraan, dan lain-lain. Mereka membuktikan bahwa perempuan mampu berbuat seperti layaknya laki-laki.

Islam datang untuk menghancurkan kezaliman dan mendobrak kegelapan yang menyelimuti status perempuan. Ia datang mengembuskan atmosfir kemerdekaan serta mengangkat harkat dan martabat perempuan dari kehinaan menuju kemuliaan. Penindasan terhadap hak-hak perempuan tidak akan terjadi kalau umat Islam sendiri sadar akan pentingnya perempuan dalam kelanjutan sebuah risalah nan suci.[9]

Misi perubahan yang secara tegas disebutkan dalam Al-Qur’an mengenai status perempuan untuk mengubah konsep dan praktik masyarakat Arab pada masa pra-Islam meliputi hal-hal sebagai berikut: (1) larangan mengubur anak perempuan hidup-hidup; (2) batasan poligami maksimal hanya sampai empat; (3) kebolehan bercerai sangat ketat yang secara prinsip suami dan istri mempunyai hak yang sama; (4) perubahan aturan tentang waris, bahwa di samping perempuan tidak boleh lagi diwariskan, perempuan juga mendapat warisan; (5) adanya pelimpahan tanggung jawab individu. Ini semua menunjukkan misi pokok Islam untuk menyejajarkan perempuan dan laki-laki dalam segala aspek kehidupan.[10]

Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa Islam memiliki peranan yang sangat besar dalam pembebasan perempuan. Hal ini bisa dilihat pada misi perubahan yang secara tegas disebutkan dalam Al-Qur’an mengenai status perempuan tersebut, setidaknya dapat menjawab berbagai tuduhan terhadap Islam mengenai perempuan. Misalnya, masalah kesetaraan perempuan dalam urusan spiritual, masalah perkawinan, masalah poligami, masalah perceraian, masalah kesopanan, dan masalah ekonomi (termasuk di dalamnya masalah warisan). Kemuliaan perempuan dalam Islam setidaknya bisa kita ketahui dengan melihat bagaimana Islam menempatkan posisi seorang ibu. Dalam Islam, seorang anak mesti patuh pada kedua orang tuanya. Namun, ketaatan kepada ibu harus didahulukan daripada ketaatan kepada ayah. Hadis yang populer menyebutkan bahwa pelayanan terbaik seorang anak didahulukan kepada ibunya tiga kali dibanding kepada ayahnya. Bahkan, pada hadis lain disebutkan bahwa surga terletak di bawah telapak kaki ibu.


[1]Witri Asriningsih, “Pengantar”, dalam Yusuf al-Qardhawi, Perempuan dalam Perspektif Islam, terj. Ghazali Mukri, Cet. Ke-2 (Yogyakarta: Pustaka Fahima, 2006), hlm. v.

 

[2]Irfan Habibie, “Wanita dalam Islam dan Feminisme”, dalam www.hati.unit.itb.ac.id, 12 Desember 2009.

[3]Nurjannah Ismail, Perempuan dalam Pasungan: Bias Laki-laki dalam Penafsiran (Yogyakarta: LKiS, 2003), hlm. 33.

[4]Witri Asriningsih, “Pengantar”, hlm. ix.

[5]Q.S. at-Takwir [81]: 9.

[6]Witri Asriningsih, “Pengantar”, hlm. x.

[7]Ibid.

[8]Ibid., hlm. xi.

[9]Ibid., hlm. xiii.

[10]Khoiruddin Nasution, Fazlur Rahman tentang Wanita (Yogyakarta: Tazzafa bekerja sama dengan ACAdeMIA, 2002), hlm. 42.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: