Jika kita perhatikan, perkembangan pendidikan dan pengajaran yang akhir-akhir ini telah digulirkan oleh pemerintah, baik yang berada dalam tanggung jawab Departemen Agama (Depag) maupun Departemen Pendidikan dan Pengajaran Nasional (Depdiknas), maka kedua lembaga tersebut berupaya memenuhi kebutuhan riil di lapangan. Untuk itu, pemerintah yang diwakili oleh Depag dan Depdiknas telah memprogramkan pembenahan sekaligus perubahan kurikulum. Kurikulum merupakan salah satu komponen penting dari sistem pendidikan dan pengajaran, sekaligus dijadikan acuan oleh pihak pengelola ataupun penyelenggara (guru dan kepala sekolah). Oleh karena itu, pemerintah pusat berupaya untuk membuat kurikulum secara sentralistik, yang selanjutnya diberlakukan bagi seluruh anak bangsa Indonesia, sesuai dengan juklak (petunjuk pelaksana) ataupun juknis (petunjuk teknis) yang menyertai kurikulum.[1]

Salah satu tugas sekolah terkait dengan kurikulum adalah menjabarkan substansi atau materi pelajaran yang tercantum dalam satuan pelajaran, sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Dengan demikian, para pengelola dan penyelenggara harus mampu mengembangkan kreativitasnya untuk menjabarkan kurikulum dan melaksanakannya dalam pembelajaran. Sebagai dampak negatif yang dapat dirasakan oleh pengelola dan penyelenggara, khususnya kelompok guru bila tidak atau kurang memahami kurikulum adalah: (1) dalam melaksanakan pembelajaran berdasarkan urutan bab dalam buku teks, (2) menggunakan buku teks sebagai satu-satunya acuan dalam mengajar, (3) sering mengalami kekurangan waktu dalam mengajar, karena buku teks biasanya dirancang tidak lebih dari terget minimal sebuah kurikulum, sehingga guru dibutuhkan penyesuaian dalam pembelajaran antara materi yang harus diajarkan secara keseluruhan dan materi yang harus dikurangi bahkan diabaikan, (4) hasil belajar peserta didik mengalami kefatalan, khususnya dalam menghadapi Ujian Nasional, (5) guru akan mengalami ketakutan dan kelabakan, kalau-kalau peserta didiknya tidak bisa mengerjakan soal dan tidak lulus. Baca Lanjutannya…

Oleh: Annisa Hidayat | 11 Mei 2010

Psikologi dan Kepribadian Manusia dalam Al-Qur’an

Para psikolog memandang kepribadian sebagai struktur dan proses psikologis yang tetap, yang menyusun pengalaman-pengalaman individu serta membentuk berbagai tindakan dan respons individu terhadap lingkungan tempat hidup.[5] Dalam masa pertumbuhannya, kepribadian bersifat dinamis, berubah-ubah dikarenakan pengaruh lingkungan, pengalaman hidup, ataupun pendidikan. Kepribadian tidak terjadi secara serta merta, tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang. Dengan demikian, apakah kepribadian seseorang itu baik atau buruk, kuat atau lemah, beradab atau biadab sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi dalam perjalanan kehidupan seseorang tersebut.[6]

Pergulatan Psikologis

Dalam kepribadian manusia terkandung sifat-sifat hewan dan sifat-sifat malaikat yang terkadang timbul pergulatan antara dua aspek kepribadian manusia tersebut. Adakalanya, manusia tertarik oleh kebutuhan dan syahwat tubuhnya, dan adakalanya ia tertarik oleh kebutuhan spiritualnya.

Al-Qur’an mengisyaratkan pergulatan psikologis yang dialami oleh manusia, yakni antara kecenderungan pada kesenangan-kesenangan jasmani dan kecenderungan pada godaan-godaan kehidupan duniawi. Jadi, sangat alamiah bahwa pembawaan manusia tersebut terkandung adanya pergulatan antara kebaikan dan keburukan, antara keutamaan dan kehinaan, dan lain sebagainya. Untuk mengatasi pergulatan antara aspek material dan aspek spiritual pada manusia tersebut dibutuhkan solusi yang baik, yakni dengan menciptakan keselarasan di antara keduanya.

Disamping itu, Al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa manusia berpotensi positif dan negatif. Pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat daripada potensi negatifnya. Hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat dibanding daya tarik kebaikan.[7]

Baca Lanjutannya…

Oleh: Annisa Hidayat | 11 Mei 2010

Hakikat Manusia dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk segenap manusia. Di dalamnya Allah menyapa akal dan perasaan manusia, mengajarkan tauhid kepada manusia, menyucikan manusia dengan berbagai ibadah, menunjukkan manusia kepada hal-hal yang dapat membawa kebaikan serta kemaslahatan dalam kehidupan individual dan sosial manusia, membimbing manusia kepada agama yang luhur agar mewujudkan diri, mengembangkan kepribadian manusia, serta meningkatkan diri manusia ke taraf kesempurnaan insani. Sehingga, manusia dapat mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.[1]

Al-Qur’an juga mendorong manusia untuk merenungkan perihal dirinya, keajaiban penciptaannya, serta keakuratan pembentukannya. Sebab, pengenalan manusia terhadap dirinya dapat mengantarkannya pada ma’rifatullah, sebagaimana tersirat dalam Surah at-Taariq [86] ayat 5-7.

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ . خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ . يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ .

Maka, hendaklah manusia merenungkan, dari apa ia diciptakan. Ia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. (Q.S. at-Taariq [86]: 5-7)

Berkaitan dengan hal ini, terdapat sebuah atsar yang menyebutkan bahwa “Barang siapa mengenal dirinya, niscaya ia mengenal Tuhan-nya.”

Di samping itu, Al-Qur’an juga memuat petunjuk mengenai manusia, sifat-sifat dan keadaan psikologisnya yang berkaitan dengan pembentukan gambaran yang benar tentang kepribadian manusia, motivasi utama yang menggerakkan perilaku manusia, serta faktor-faktor yang mendasari keselarasan dan kesempurnaan kepribadian manusia dan terwujudnya kesehatan jiwa manusia.[2]

Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba melihat sejauh mana hakikat manusia menurut perspektif Al-Qur’an. Di awal pembahasan, penulis akan memaparkan secara sekilas definisi manusia dan asal-usul penciptaannya. Semoga tulisan sederhana ini bisa menambah inspirasi untuk memantapkan kembali eksistensi kita sebagai manusia.

Baca Lanjutannya…

Manusia adalah “makhluk sosial”. Hal ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang hal tersebut. Khalaqa al-insaana min ‘alaq bukan hanya diartikan sebagai “menciptakan manusia dari segumpal darah” atau “sesuatu yang berdempet di dinding rahim”, akan tetapi juga dapat dipahami sebagai “diciptakan dinding dalam keadaan selalu bergantung kepada pihak lain atau tidak dapat hidup sendiri”.[1]

Dari hal itu dapat dipahami bahwa manusia dengan seluruh perwatakan dan pertumbuhannya adalah hasil pencapaian dua faktor, yaitu faktor warisan dan faktor lingkungan. Faktor inilah yang mempengaruhi manusia dalam berinteraksi dengannya semenjak ia menjadi embrio hingga akhir hayat.[2]

Kemudian, lingkungan yang nyaman dan mendukung bagi terselenggaranya suatu pendidikan sangat dibutuhkan dan turut berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan. Demikian pula dalam sistem pendidikan Islam, lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sesuai dengan karakteristik pendidikan Islam itu sendiri.

Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak didik, namun lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan dan pengaruhnya sangat besar terhadap anak didik. Sebab, bagaimanapun seorang anak tinggal dalam suatu lingkungan, disadari atau tidak, lingkungan tersebut akan mempengaruhi anak tersebut. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw. dari riwayat Abu Hurairah:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan ‘fitrah’. Namun, kedua orang tuanya (mewakili lingkungan) mungkin dapat menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam mengakui potensi lingkungan yang pengaruhnya dapat sangat kuat sehingga sangat mungkin dapat mengalahkan fitrah.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Annisa Hidayat | 5 Mei 2010

Do’a Rasulullah saw. untuk Ibnu Abbas r.a.

Sudah menjadi sifat yang manusiawi jika setiap orang senang didoakan. Seperti yang sudah lazim berlaku dalam tradisi, banyak orang yang datang sowan kepada para ulama yang notabene dianggap sebagai warasah al-anbiya’ dengan tujuan tabarukan (ngalap berkah) atas doa-doa yang terucap dari sosok yang diagungkan itu. Mereka beranggapan bahwa setiap doa yang dilontarkan oleh tokoh istimewa tersebut adalah maqbul. Namun, apakah benar doa tersebut menjadi maqbul tanpa adanya usaha?

Berkaitan dengan masalah ini, bagaimana fakta yang terjadi pada zaman Rasulullah saw., tepatnya antara para sahabat dan Rasulullah saw.? Memang benar, tradisi semacam ini pernah dialami oleh sahabat Rasulullah saw., yaitu Ibnu Abbas. Dengan kapasitas intelektual yang tinggi dan atas keloyalannya terhadap Rasulullah saw., ia pernah didoakan oleh Rasulullah saw. supaya menjadi orang yang ahli Al-Qur’an.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Annisa Hidayat | 3 Mei 2010

Kedudukan dan Hak-hak Perempuan dalam Al-Qur’an

Sebagai rujukan prinsip dasar masyarakat Islam, Al-Qur’an menunjukkan bahwa pada dasarnya kedudukan laki-laki dan perempuan adalah sama.[1] Keduanya diciptakan dari satu nafs (living entity), di mana yang satu tidak memiliki keunggulan terhadap yang lain.  Atas dasar itu, prinsip Al-Qur’an terhadap hak kaum laki-laki dan perempuan adalah sama, di mana hak istri adalah diakui secara adil (equal) dengan hak suami. Dengan kata lain, laki-laki memiliki hak dan kewajiban atas perempuan, dan kaum perempuan juga memiliki hak dan kewajiban terhadap kaum laki-laki. Itulah mengapa Al-Qur’an dianggap memiliki pandangan yang revolusioner terhadap hubungan kemanusiaan, yakni memberikan keadilan hak antara laki-laki dan perempuan. Terlebih jika dikaitkan dengan konteks masyarakat pra-Islam yang ditransformasikannya.[2]

Ajaran Al-Qur’an tentang perempuan umumnya merupakan bagian dari usaha Al-Qur’an untuk menguatkan dan memperbaiki posisi sebagian atau kelompok lemah dalam kehidupan masyarakat Arab pra-Islam. Apa yang menjadi tujuan pokok Al-Qur’an tentang perempuan adalah menghilangkan bagian-bagian yang memperlakukan perempuan secara kejam.[3]

Baca Lanjutannya…

Oleh: Annisa Hidayat | 2 Mei 2010

Perempuan dalam Islam

Memperbincangkan perempuan memang tak akan pernah ada habisnya. Sejak dahulu hingga sekarang wacana tentang perempuan selalu menjadi agenda yang sangat penting. Terlebih ketika muncul gerakan feminisme yang mempersoalkan peran perempuan yang dianggap marjinal dan subordinasi dari kaum laki-laki. Sebagian ada yang berpendapat bahwa Islam mendiskreditkan perempuan, Islam tidak memberikan ruang gerak yang bebas kepada perempuan.[1] Padahal jika kita melihat perempuan dalam bingkai sejarah, Islam memiliki peran yang besar dalam pembebasan perempuan.

Status perempuan dalam Islam dapat dipahami secara baik apabila diketahui status mereka pada zaman jahiliyah (periode kebodohan atau periode pra-Islam). Hal ini disebabkan karena tidak adanya revolusi, politik, atau sosio-keagamaan yang dapat menghapus semua jejak masa lalu. Sebagaimana diketahui, pada masa pra-Islam, perempuan tidak mendapatkan hak apa-apa dan diperlakukan tidak lebih dari barang dagangan. Mereka tidak hanya diperbudak, tetapi juga dapat diwariskan sebagaimana harta benda.[2] Saat itu, wanita dijadikan golongan kasta terendah dalam penggolongan manusia. Kemudian juga jika dilihat dalam potret buram keadaan perempuan saat ini, perempuan menjadi objek eksploitasi masyarakat barat yang memiliki budaya laissez faire. Kisah sedih ini justru merupakan buah ‘pembebasan’ feminisme. ‘Pembebasan’ yang malah menghasilkan angka yang tinggi pada pembunuhan janin, prostitusi, pemerkosaan, perceraian dan  single parent (baca: single mother). Penindasan kuno yang tetap lestari dalam kemasan baru.[3]

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori